Menekuni Keterampilan Menulis Sebelum Jadi Dosen Dan Penyuluh Agama

Perkenalkan, saya Ahmad Rohim. Tulisan ini merupakan konten blog pertama di website PT Cahaya Ilahi Press. Selama ini saya merasa belum membutuhkan website untuk promosi karya buku saya. Saya sudah merasa cukup pake microsite lynk.id/ahmad.rohim. Tapi saat saya membuat akun untuk mengurus ISBN di website Perpusnas, saya harus punya website sebagai salah syaratnya. Jadilah website ini pake nama domain ptcipt.biz.id. Alhamdulillah, untuk teknis pembuatan website ini saya dibantu oleh seorang teman. Dialah yang meminta saya menulis artikel-artikel yang akan dipublikasikan sebagai konten blog di website ini.

Saya lahir di Kendari pada tanggal 3 Februari 1979. Ayah dan Ibu saya aslinya orang Demak, mereka hijrah ke Kendari sebagai transmigran. Saya menyelesaikan pendidikan sekolah di Madrasah Aliah Negeri Kendari. Tahun 1997 saya melanjutkan kuliah di Universitas Halu Oleo Fakultas Pertanian jurusan Sosial Ekonomi Pertanian program studi Penyuluh dan Komunikasi Pertanian. Selama masa kuliah tersebut saya juga belajar dan mengabdi sebagai santri di Pesantren Hidayatullah Kendari.

Pada tahun 1999 saya dapat penugasan ke Pesantren Hidayatullah Jakarta. Saya melanjutkan di Institut Agama Islam Al-Aqidah Jakarta sampai selesai mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Islam pada tahun 2003. Kemudian saya melanjutkan kuliah pascasarjana di perguruan tinggi yang sama pada tahun 2010 sampai selesai mendapatkan gelar Magister Agama pada tahun 2012. 

Setelah jaringan pesantren Hidayatullah bertranformasi menjadi Ormas pada tahun 2000, saya mendapat tugas menjadi staff Sekjen DPP Hidayatullah sampai tahun 2003. Setelah itu saya mendapat tugas lagi menjadi sekretaris redaksi majalah Suara Hidayatullah sampai tahun 2010. 

Pada tahun 2012 saya menjadi dosen di Universitas MH Thamrin dan Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA). Sambil menjalani pekerjaan sebagai dosen, pada tahun 2019 saya menjadi tenaga honorer Penyuluh Agama Islam di KAU Pondok Gede, Bekasi. Kemudian pada Juli 2023 saya lulus test seleksi PPPK Kementrian Agama Republik Indonesia dan ditempatkan di KAU Kotabaru, Karawang. Setelah jadi ASN PPPK saya hanya melanjutkan pekerjaan sebagai dosen di IPRIJA saja. Saya menjalaninya di luar hari kerja saya sebagai ASN. 

Pada masa sekolah dan kuliah saya memiliki ketertarikan dengan dunia literasi dan tulis-menulis.  Saya semakin tertarik dan menekuni keterampilan menulis saat menjadi staff Sekjen DPP Hidayatullah dan saat menjadi sekretaris redaksi majalah Suara Hidayatullah. Alhamdulillah keterampilan menulis yang terus diasah sangat berguna dalam menunjang pekerjaan saya saat ini sebagai penyuluh agama dan dosen. 

Menulis bagi saya bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral. Setiap orang yang diberi kesempatan belajar, merenung, dan memahami kehidupan memiliki kewajiban untuk berbagi. Tulisan menjadi salah satu cara paling jujur untuk membagikan itu semua. Lewat tulisan memungkinkan gagasan bertemu dengan pembaca yang mungkin sedang mencari arah, penguatan, atau sekadar pengingat tentang nilai-nilai kehidupan.

Di sisi lain, menulis adalah proses mendidik diri sendiri. Ketika seseorang menulis, ia dipaksa untuk berpikir lebih jernih, menimbang kata dengan hati-hati, dan menempatkan setiap gagasan secara bertanggung jawab. Proses ini membuat penulis tidak hanya berbicara kepada orang lain, tetapi juga berdialog dengan dirinya sendiri.

Saya percaya bahwa perubahan besar dalam masyarakat sering dimulai dari gagasan yang sederhana, lalu dituliskan dengan jujur dan dibaca oleh orang yang tepat. Sebuah tulisan mungkin tidak langsung mengubah dunia, tetapi ia dapat mengubah cara seseorang memandang hidup. Dari perubahan kecil itulah sering lahir perubahan yang lebih besar.

Karena itu saya memandang menulis sebagai ikhtiar untuk menyalakan cahaya kecil. Barangkali cahaya itu tidak besar, tetapi jika cukup banyak orang menyalakannya melalui tulisan, maka kegelapan ketidaktahuan perlahan akan berkurang. Dan di situlah menulis menjadi bukan sekadar kegiatan pribadi, melainkan bagian dari upaya bersama untuk membangun kesadaran dan peradaban.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *